GRESIK, 15 Maret 2022 - PT Barata Indonesia (Persero) atau BARATA dan PT Boma Bisma Indra (Persero) atau BBI melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) BARATA-BBI dalam rangka harmonisasi Program Kerja dan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) sebagai tahap awal rencana merger yang diharapkan dapat terlaksana secepatnya. Penandatanganan dilakukan secara daring oleh Direktur Utama Barata Indonesia Bobby Sumardiat Atmosudirjo dan Direktur Utama PT Boma Bisma Indra (Persero) Yoyok Hadi Satriyono serta turut dihadiri oleh Direksi PT PPA (Persero) sebagai kuasa pemegang saham dan jajaran manajemen kedua belah pihak.

Kegiatan dimulai dengan sambutan dari PT PPA yang diwakili oleh Direktur Investasi 1 dan Restrukturisasi PT PPA (Persero) Rizwan Rizal Abidin mengaku antusias dengan harmonisasi Barata BBI ini dalam rangka memberikan offerings product yang lebih luas utamanya bagi industri manufaktur. “Kami berharap, kerja sama ini dapat berkembang dan bertumbuh memberikan nilai manfaat bagi seluruh stakeholders,”ucapnya.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama BARATA Bobby Sumardiat Atmosudirjo mengatakan konsep bisnis kerjasama operasi BARATA-BBI akan menjadi kekuatan baru bagi industri manufaktur nasional yang saling menguatkan. BARATA maupun BBI memiliki bidang usaha yang hampir sama yakni mendukung sektor pangan (food), energi, dan sumber daya air (water). Menurutnya, kedua perseroan akan meraih pangsa pasar yang lebih baik, lewat penetrasi industri yang lebih optimal melalui kerjasama ini.

Bobby juga menjelaskan bahwa tujuan penggabungan dua BUMN ini tak lain untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan penetrasi jaringan bisnis industri manufaktur. Selain itu untuk mengantisipasi kondisi persaingan yang semakin ketat maka perlu dilakukan restrukturisasi dan penguatan bisnis melalui sinergitas ini. Tujuannya untuk menghasilkan lini bisnis yang terintegrasi secara horizontal, dimana tidak ada lagi persaingan. ”Kerjasama ini merupakan salah satu cara untuk mempersiapkan model kerja yang terintegrasi untuk sinergi jangka panjang BUMN manufaktur,” ujar Bobby.

Kedua belah pihak sepakat berorientasi pada pemenuhan pasar manufaktur domestik, penguatan pasar ekspor produk manufaktur unggulan perusahaan, dan mendorong peningkatan Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 45 persen. Dengan pemenuhan TKDN yang tinggi, diharapkan dapat mendorong pemanfaatan potensi dalam negeri pada proyek strategis nasional serta memperkuat daya saing industri manufaktur untuk menjadi pemain dalam global value chains. “Karena itu, dukungan dari kuasa pemegang saham dan pemerintah baik itu dari segi regulasi maupun kebijakan akan sangat membantu kemandirian industri ini." imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Utama BBI Yoyok Hadi Satriyono mengungkapkan proses kolaborasi dua perseroan ini sebagai bentuk nyata aplikasi nilai-nilai Akhlak. Diharapkan dengan kerjasama ini dapat memperkuat working capital dan sumber daya lainnya. Dalam rangka percepatan kerjasama ini telah dibentuk project management officer (PMO) yang bertugas melakukan sejumlah langkah persiapan skema kerja sama operasi secara menyeluruh mulai dari aspek bisnis, modal kerja, pelaksanaan operasional, transfer knowledge human resources, hingga governance model monitoring.